5 Pelajaran yang Saya Dapat Saat Menulis Buku "Belum Terlambat Di Usia 20" di Pontianak


Cover Buku


Diusia 20-an, banyak dari kita merasa tertinggal. Teman sudah lulus, sudah kerja, sudah nikah, sementara kita masih bingung arah hidup. Perasaan itulah yang membuat saya menulis buku pertama saya, _Belum Terlambat Di Usia 20: Menata Arah Hidup Sebelum Memasuki Usia 30.

Saya menulis buku ini bukan di Jakarta, bukan di ruang kerja mewah, tapi di Pontianak, di Jalan Tanjung Raya 1, di sela-sela aktivitas saya sebagai penerbit di Shazmeen Publishing. Dan selama prosesnya, ada 5 pelajaran penting yang saya dapat.

1. Jangan Menunggu Sempurna Untuk Mulai Menulis

Kesalahan terbesar saya sebagai penulis pemula adalah menunggu ide sempurna. Saya dulu begitu. Selama berbulan-bulan saya hanya membuat outline, tapi tidak pernah menulis bab 1, dan kalau boleh jujur saya sudah cukup banyak menulis tapi selalu mental dikarenakan banyak faktor tapi saya tidak akan menyerah begitu saja. Akhirnya saya memaksakan diri lagi untuk menulis 500 kata per hari, meski jelek. Ternyata, tulisan yang jelek bisa diedit, tapi halaman kosong tidak bisa apa-apa.

2. Tulisan yang Jujur Lebih Kuat dari Tulisan yang Indah

Awalnya saya ingin membuat buku ini terlihat seperti buku motivasi luar negeri yang puitis. Tapi setelah saya membaca ulang, terasa hampa. Saya ubah total. Saya ceritakan tentang rasa gagal, tentang luka, dan tentang cara bangkit tanpa harus sempurna. Ternyata pembaca di Pontianak lebih suka yang jujur. Itulah yang membuat buku ini terasa dekat.

3. Pontianak Butuh Buku Sendiri

Selama ini, banyak buku motivasi ditulis dengan contoh dari kota besar. Padahal anak muda di Pontianak punya tantangan sendiri: akses buku terbatas, lingkungan literasi yang masih kecil, dan rasa minder karena jauh dari pusat.

Shazmeen Publishing kami dirikan untuk itu. Kami ingin anak muda Kalimantan Barat punya buku yang bercerita tentang mereka sendiri.

4. Menerbitkan Buku Tidak Harus Mahal

Banyak yang mengira menerbitkan buku harus lewat penerbit besar di Jawa. Padahal sekarang, dengan NIB dan ISBN, penerbit independen seperti kami bisa menerbitkan secara legal dari Pontianak. Buku Belum Terlambat Di Usia 20_ ini adalah buktinya. Kami urus ISBN di Perpusnas, kami desain cover sendiri, dan kami cetak sesuai kebutuhan.

5. Usia 20 Bukan Garis Finish, Tapi Titik Awal

Pelajaran terakhir ini adalah inti dari buku saya. Usia 20 bukan batas untuk sukses. Usia 20 adalah waktu terbaik untuk menata ulang. Kamu tidak tertinggal. Kamu hanya sedang di jalurnya sendiri.

Penutup

Jika kamu saat ini sedang merasa cemas di usia 20-an, ingatlah: belum terlambat. Kamu masih punya waktu untuk memulai, untuk gagal, dan untuk mencoba lagi. Buku ini saya tulis untuk menemani kamu di fase itu.

Tentang Penulis:

Fathul Qarib adalah pendiri Shazmeen Publishing, penerbit buku motivasi, pendidikan, dan pengembangan diri di Pontianak. Buku  Belum Terlambat Di Usia 20 adalah karya pertamanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELUM TERLAMBAT DI USIA 20 - Fathul Qarib

Cara Menulis Buku Pertama: Pengalaman Shazmeen Publishing